CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 07 Mei 2013

Logotherapy

Logoterapi secara bahasa atau linguistik berasal dari kata logos dari bahasa yunani yang berarti “makna”. Logoterapi juga dapat dikatakan sebagai sebuah upaya eksistensial untuk menjalani kehidupan secara sehat melalui makna-makna kehidupan dari pribadi atau diri manusia. Keinginan mencari makna hidup merupakan dasar utama dari aliaran psikologi logoterapi ini. Logoterapi mengakui adanya dimensi kerohanian dan memanfaatkannya untuk mengembangkan hidup yang bermakna, (Christia,2011).

Logoterapi  terkadang  disebut aliran  ketiga  dalam  terapi  psikis,  aliran  yang  lainnya  adalah  analisis  kejiwaan (Freud) dan psikologi individual (Adler). Mereka berbeda dalam analisis kejiwaan yang  fokus  pada  tekad  kesenangan,  psikologi  individual  fokus  pada  tekad kekuatan dan logoterapi fokus pada tekad makna.

Hidup itu singkat dan penuh potensi serta kemungkinan-kemungkinan. Hal yang  terpenting  bukan  karakter,  insting,  inisiatif  kita,  tetapi  bagaiman  kita bersikap  terhadap  hal-hal  tersebut.  Kita  bebas  membentuk  karakter  kita  dan bertanggung  jawab  juga  terhadap  apa  yang  kita  buat  untuk  diri  kita  sendiri.  Ada tiga fungsi manusia secara jelas: hati nurani, refleksi contoh, dan kapasitas untuk membuat diri sendiri sebagai objek.

Logoterapi  mengajarkan  bahwa  setiap  kehidupan  individu  mempunyai maksud,  tujuan,  makna  yang  harus  diupayakan  untuk  ditemukan  dan  dipenuhi. Hidup  kita  tidak  lagi  kosong  jika  kita  menemukan  suatu  sebab  dan  sesuatu  yang dapat  mendedikasikan  eksistensi  kita.  Namun  kalaulah  hidup  diisi  dengan  penderitaaan  pun,  itu  adalah  kehidupan  yang  bermakna,  karena  keberanian  menanggung  tragedi  yang  tak  tertanggungkan  merupakan  pencapaian  atau  prestasi dan kemenangan.

Banyak orang menyatakan bahwa logoterapi Victor E. Frankl sangat dekat dengan  ajaran  agama  (spiritual),  atau  juga  bisa  merupakan  "agama  sekuler".  Bagi  Frankl  makna  hidup  adalah  daya  yang  membimbing  eksistensi  manusia,  sebagaimana  para  Nabi  membimbing  umatnya.

Kesadaran dan Ketidaksadaran Dalam pencarian makna melibatkan kesadaran dan keidaksadaran. Logoterapi fokus  terhadap  kehidupan  spiritual  kita  karena  pada  dasarnya  kita  makhluk spiritual.  Kata  spiritual  disini  bukan  kata  pada  makna  keagamaan.  Fenomena spiritual kita dapa sadar atau tidak.
  1. Ketidaksadaran Spiritual, Dasar  kehidupan  mnusia    akhirnya  adalah  tidak  sadar.  ada  perbedaan diantara  ketidaksadaran  spiritual  dan  instingtual.  Freud  menganggap ketidaksadarn  sebagai  insting  yang  tertindas,  kejiwaan  yang  dalam mengikuti  klien  pada  dalamnya  jiwa  mereka  daripada  fokus  terhadap jasmani  yang  tertindas.  ada  kesulitan  pada  diri  yang  dasarnya  tidak terefleksikan: ’ Hidup berada pada aksi bukan refleksi’ Frankl.
  2. Ketidaksadaran Keagamaan, Ketika impian dianalisis, keagamaan  yang tidak sadar dan tertindas, tidak tertutupi.  Ketidaksadran  keagamaan  ada  pada  ketidaksadaran  spiritual. Menurut  Jung,  ketidaksadaran  keagamaan  datang  dari  penyimpanan impersonal  dari  bayangan  manusia.  Frank  mengatakan  sebagai perbandingan bahwa hal tersebut berasal dari pusat kepribadian dari setiap manusia. Eksistensial dari keagamaan harus spontan, dan ketika harus asli, harus  diungkapkan  pada  langkah  sendiri.  Frank  (1975):  ’sekali malaikat tertindas, ia akan berubah menjadi setan’. 
Hati Nurani
Hati  nurani  memiliki  keaslian  dalam  ketidaksadaran  spiritual  dan dibandingkan  secara  individual  dengan  insting.  Hati  nurani  dideskripsikan sebagai ’insting etika’ dan memiliki kualitas luar biasa. 

Makna
Menurut  Frank  (1955)  kita  tidak  akan  pernah  menghindar  dari  tugas memilih  diantara  kemungkinan-kemungkinan.  Banyak  orang  mengabaikan masa  lalu  mereka  sebagai  sumber  makna  di  kehidupan  mereka,  padahal mengindetifikasi  sumber  makna  di  masa  lalu  dapat  memberi  makna  di  masa sekarang.  Makna  hidup  itu  harus  dicari  oleh  manusia.  Di  dalam  makna tersebut tersimpan nilai-nilai yaitu : (1) nilai kreatif, (2) nilai pengalaman, dan (3) nilai sikap. Dengan dorongan untuk mengisi nilai-nilai itu maka kehidupan akan lebih bermakna. Makna hidup yang diperoleh manusia akan meringankan
beban atau gangguan kejiwaan yang dialaminya.
 
Pandangan Logoterapi

Teori tentang kodrat manusia dalam Logoterapi dibangun diatas tiga asumsi dasar, dimana antara yang satu dengan yang lainnya saling menopang, yakni:
  1. Kebebasan bersikap dan berkehendak (the freedom to will)
  2. Kehendak untuk hidup bermakna (the will to meaning)
  3. Tentang makna hidup (the meaning of life)

Asas Logoterapi Pada  hakikatnya  merupakan  inti  dari  setiap  perjuangan  hidup,  yakni mengusahakan  agar  kehidupan  senantiasa  berguna  bagi  diri  sendiri,  keluarga, masyarakat dan agama. Asas utama logoterapi yaitu:
  1. Hidup  itu  tetap  memiliki  makna  dalam  setiap  situasi.  Makna  adalah  sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga, dan didambakan serta memberi nilai khusus  bagi  seseorang  dan  ayak  dijadikan  tujuan  hidup.  Jika  makna  hidup berhasil  ditemukan  dan  dipenuhi  maka  akan  menyebabkan  kehidupan  berarti dan akan mendapatkan kebahagiaan sebagai ganjarannya.
  2. Setiap  manusia  memiliki  kebebasan  yang  hamper  tidak  terbatas  untuk menemukan  sendiri  makna  hidupnya.  Makna  hidup  dan  sumber-sumbernya dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri khususnya pada pekerjaan yang dilakukan  dan  dalam  keyakinan  terhadap  harapan  dan  kebenaran  serta penghayatan atas keindahan, iman, dan cinta kasih.
  3. Setiap  manusia  memiliki  kemampuan  untuk  mengambil  sikap  terhadap penderiataan  dan  peristiwa  tragis  yang  dihadapi  setelah  upaya  mengatasinya telah dilakukan secara ptimal namun tidak berhasil. Maksudnya, jika kita tidak mungkin  mengubah  suatu  keadaan  sebaiknya  kita  mengubah  sikap  kita  atas keadaan itu agar kita tidak terhanyut secara negatif oleh keadaan itu.
Ketiga asas tersebut tercakup dalam ajaran logoterapi mengenai eksistensi dan makna hidup, sebagai berikut:
  1. Dalam  setiap  keadaan  termasuk  dalam  penderitaan  sekalipun  hidup  ini  selalu memberi/mempunyai makna.
  2. Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.
  3. Dalam  batas-batas  tertentu  manusia  memiliki  kebebasan  dan  tanggung  jawab pribadi  untuk  mamilih,  menentukan,  dan  memenuhi  makna  dan  tujuan hidupnya.
  4. Hidup  yang  bermakna  diperoleh  dengan  jalan  merealisasikan  tiga  nilai kehidupan  (nilai-nilai  kreatif/creative  values,  nilai-nilai penghayatan/experiental  values,  dan  nilai-nilai  bersikap/attitudinal  values)  

Sumber-sumber Makna Hidup Selama kita mampu melihat hikmah di setiap keadaan maka makna hidup mungkin  saja  dapat  ditemukan  dalam  keadaan  penderitaan.  Dalam  kehidupan  ini terdapat  beberapa  bidang  kegiatan  yang  secara  potensial  mengandung  nilai-nilai yang  memungkinkan  seseorang  dapat  menemukan  makna  hidupnya  aabila  nili-nilai tersebut dipenuhi.

Creative  values  seperti  berkarya,  bekerja,  serta  melaksanakan  tugas  dan kewajiban sebaiknya dengan penuh tanggung jawab. Melalui karya dan kerja kita dapat  menemukan  makna   hidup  dan  menghayati  kehidupan  secara  bermakna. Namun,  pekerjaan  hanyalah  sarana  yang  memberikan  kesempatan  untuk menemukan  dan  mengembangkan  makna  hidup,  sehingga  makna  hidup  tidak terletak pada pekerjaan tetapi lebih tergantung pada individu yang bersangkutan.

Experiental  values  yakni  keyakinan  dan  penghayatan  akan  nilai-nilai kebenaran, keindahan, keimanan, serta cinta kasih.
Attitudinal  values  yakni  menerima  dengan  penuh  ketabahan,  kesabaran, dan kebenaransegala bentuk bentuk penderitaan. Dalam hal ini yang diubah buka keadaannya tetapi sikap  yang diambil dalam menghadapi keadaan itu.

Hopefull  values,  harapan  adalah  keyakinan  akanterjadinya  hal-hal  yang baik  atau  perubahan  yang  menguntungkan  di  kemudian  hari.  Meskipun  harapan belum  tentu  menjadi  kenyataannamun  dapat  memberikan  sebuah  peluang  dan solusi  serta  tujuan  baru  yang  menjanjikan  dan  dapat  menimbulkan  semangat  dan optimisme.

Tujuan Konseling Logo  therapy  bertujuan  agar  dalam  masalah  yang  dihadapi  klien  dia  bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta. Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah tersebut. Ada pun tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:
  1. Memahami  adanya  potensi  dan  sumber  daya  rohaniah  yang  secara  universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
  2. Menyadari  bahwa  sumber-sumber  dan  potensi  itu  sering  ditekan,  terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan;
  3. Memanfaatkan  daya-daya  tersebut  untuk  bangkit  kembali  dari  penderitaan untuk  mampu  tegak  kokoh  menghadapi  berbagai  kendala,  dan  secara  sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
Tahapan-tahapan Konseling  Logoterapi Proses  konseling  pada  umumnya  mencakup  tahap-tahap  :  perkenalan, pengungkapan  dan  penjajakan  masalah,  pembahasan  bersama,  evaluasi  dan penyimpulan,  serta  pengubahan  sikap  dan  perilaku.  Biasnya  setelah  masa konseling  berakhir  masih  dilanjutkan  pemantauan  atas  upaya  perubahan  perilaku dan klien dapan mlakukan konsultasi lanjutan jika diperlukan.

Konseling  logoterapi  berorientasi  pada  masa  depan  (future  oriented)  dan berorientasi  pada  makna  hidup  (meaning  oriented).  Relasi  yang  dibangun  antara konselor  dengan  konseli  adalah  encounter,  yaitu  hubungan  antar  pribadi  yang ditandai  oleh  keakraban  dan  keterbukaan,  serta  sikap  dan  kesediaan  untuk  saling menghargai, memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lain. 

Ada  empat  tahap  utama  didalam  proses  konseling  logterapi  diantaranya adalah:
  1. Tahap  perkenalan  dan  pembinaan  rapport.  Pada  tahap  ini  diawali  dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina rapport yang makin  lama  makin  membuka  peluang  untuk  sebuah  encounter.  Inti  sebuah encounter  adalah  penghargaan  kepada  sesama  manusia,  ketulusan  hati,  dan pelayanan. Percakapan dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseli. 
  2. Tahap  pengungkapan  dan  penjajagan  masalah.  Pada  tahap  ini  konselor  mulai membuka  dialog  mengenai  masalah  yang  dihadapi  konseli.  Berbeda  dengan konseling  lain  yang  cenderung  membeiarkan  konseli  “sepuasnya” mengungkapkan  masalahnya,  dalam  logoterapi  konseli  sejak  awal  diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan. 
  3. Pada  tahap  pembahasan  bersama,  konselor  dan  konseli  bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan. 
  4. Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya,  yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap  makna  hidup,  penemuan  dan  pemenuhan  makna,  dan  pengurangan symptom.   

Hubungan Konselor dan Konseli dalam Logoterapi Dalam  logoterapi,  konseli  mampu  mengalami  secara  subjektif  persepsi-persepsi  tentang dunianya.  Dia  harus  aktif  dalam  proses  terapeutik,  sebab  dia harus  memutuskan  ketakutan-ketakutan,  perasaan-perasaan  berdosa  dan kecemasan-kecemasan apa yang akan dieksplorasi. Memutuskan untuk menjalani terapi saja sering merupakan tindakan yang menakutkan. Konseli dalam terapi ini, terlibat dalam pembukaan pintu diri sendiri. Pengalaman sering menakutkan atau menyenangkan  dan  mendepresikan  atau  gabungan  dari  semua  perasaan  tersebut.

Dengan  membuka  pintu  yang  tertutup,  konseli  mampu  melonggarkan  belenggu deterministic  yang  telah  menyebabkan  dia  terpenjara  secara  psikologis.  Lambat laun konseli mulai sadar, apa dia tadinya dan siapa dia sekarang serta klien lebih mampu menetapkan masa depan macam apa  yang diinginkannya. Melalui proses terapi,  konseli  bisa  mengeksplorasi  alternative-alternatif  guna  membuat pandangan-pandangan menjadi nyata.

Menurut  Frankl  (1959),  pencarian  makna  dalam  hidup  adalah  salah  satu ciri  manusia.  Dalam  pandangan  para  eksistensialis,  tugas  utama  konselor  adalah mengeksplorasi  persoalan-persoalan  yang  berkaitan  dengan  ketidakberdayaan, keputusasaan,  ketidakbermaknaan,  dan  kekosongan  eksistensial.  Tugas  proses terapeutik  adalah  menghadapi  masalah  ketidakbermaknaan  dan  membantu Konseli dalam membuat makna dari dunia yang kacau. 

Frankl  menandaskan  bahwa  fungsi  Konselor  bukanlah  menyampaikan kepada  Konseli  apa  makna  hidup  yang  harus  diciptakannya,  melainkan mengungkapkan  bahwa  Konseli  bisa  menemukan  makna,  bahkan  juga  dari penderitaan,  karena  penderitaan  manusia  bisa  diubah  menjadi  prestasi  melalui sikap yang diambilnya dalam menghadapi penderitaan itu.
Buhler  dan  Allen  (1972)  sepakat  bahwa  psikoterapi  difokuskan  pada pendekatan  terhadap  hubungan  manusia  alih-alih  sistem  teknik.    Para  ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
  1. Mengakui pentingya pendekatan dari pribadi ke konselor
  2. Menyadari peran dari tanggung jawab Konselor
  3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik
  4. Berorientasi pada pertumbuhan
  5. Menekankan  keharusan  Konselor  terlibat  dengan  Konseli  sebagai  suatu pribadi yang menyeluruh
  6. Mengakui  bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan Konseli
  7. Memandang Konselor sebagai model, dalam arti bahwa Konselor dengan gaya hidup  dan  pandangan  humanistiknya  tentang  manusia  bisa  secara  implisit menunjukkan  potensi Konseli bagi tindakan kreatif dan positif
  8. Mengakui  kebebasan  Konseli    untuk  mengungkapkan  pandangan  dan  untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri
  9. Bekerja  ke  arah  mengurangi  ketergantungan  Konseli  serta  meningkatkan kebebasan Konseli

May  (1961)  memandang  tugas  Konselor  diantaranya  adalah  membantu Konseli  agar  menyadari  keberadaannya  dalam  dunia  :  “ini  adalah  ketika  pasien melihat  dirinya  sebagai  orang  yang  terancam,  yang  hadir  di  dunia  yang mengancam dan sebagai subjek yang memiliki dunia”.

Frankl  (1959)  menjabarkan  peran  Konselor  sebagai  “spesialis  mata daripada sebagai pelukis”, yang bertugas “memperluas dan memperlebar lapangan visual pasien sehingga spektrum keseluruhan dari  makna dan nilai-nilai menjadi disadari dan dapat diamati oleh pasien”.

Hakikat Manusia dalam Logoterapi Berikut ini merupakan beberapa pandangan logoterapi terhadap manusia :
  1. Menurut  Frankl  manusia  merupakan  kesatuan  utuh  dimensi  ragawi,  kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-psiko-spiritual.
  2. Frankl  menyatakan  bahwa  manusia  memiliki  dimensi  spiritual  yang terintegrasi  dengan  dimensi  ragawai  dan  kejiwaan.  Perlu  dipahami  bahwa sebutan  “spirituality”  dalam  logoterapi  tidak  mengandung  konotasi keagamaan  karena  dimens  ini  dimiliki  manusia  tanpa  memandang  ras, ideology,  agama  dan  keyakinannya.  Oleh  karena  itulah  Frankl  menggunakan istilah  noetic  sebagai  padanan  dari  spirituality,  supaya  tidak  disalahpahami sebagai konsep agama.
  3. Dengan  adanya  dimensi  noetic  ini  manusiamampu  melakukan  self-detachment,  yakni  dengan  sadar  mengambil  jarak  terhadap  dirinya  serta mampu meninjau dan menilai dirinya sendiri.
  4. Manusia  adalah  makhluk  yang  terbuka  terhadap  dunia  luar  serta  senantiasa berinteraksi  dengan  sesama  manusia  dalam  lingkungan  sosial-budaya  serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.
Dengan  demikian,  dalam  pandangan  logoterapi  manusia  adalah  istimewa yang  memiliki  berbagai  kemampuan  dan  daya-daya  istimewa  pula.  Sadar  diri, kemampuan  mengambil  jarak  dan  transendensi  diri  menunjukan  kemampuan manusia  untuk  melampaui  dimensi  ragawi  (antara  lain  bawaan  dan  insting)  dan pengaruh lingkungan serta mampu mengarahkan diri kepada hal-hal diluar dirinya seperti makna hidup dan orang-orang yang dikasihinya. Manusia pun menemukan makna  hidup  melalui  apa  yang  diberikan  kepada  lingkungan,  apa  yang  yang diambilnya dari lingkungan (menghayati keindahan dan cinta kasih ), serta sikap tepat atas kodisi tragis yang tak dapat dihindari (misalnya kematian).

Pandangan Logoterapi Terhadap Masalah Dalam ilmu psikologi Eksistensial, masalah makna hidup banyak dibahas. Salah  seorang  tokohnya  yang  banyak  membahas  masalah  makna  hdsup  adalah Victor  Frankl  seorang  psikiater  dari  Austria  dengan  teorinya  yang  disebut logoterapi. Menurut Frankl pada dasarnya manusia selalu menginginkan hidupnya selalu bermakna. Hidup yang tidak berarti membuat orang mengalami kehampaan eksistensial  dan  selanjutnya  akan  menimbulkan  frustasi  eksistensial  (frustasi kerena tidak bisa memenuhi keinginanya kepada makna).  

Konseling  logoterapi  merupakan  konseling  untuk  membantu  individu mengatasi  masalah  ketidakjelasan  makna  dan  tujuan  hidup,  yang  sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup.. Dalam logoterapi masalah adalah  ujian  hidup  yang  menurut  Frankl  harus  dihadapi  dengan  keberanian  dan kesabaran.  Yakni  keberanian  untuk  membiarkan  masalah  ini  untuk  sementara waktu  tak  terpecahkan,  dan  kesabaran  untuk  tidak  menyerah  dan  mengupayakan penyelesaian. 

Logoterapi  dapat  digambarkan  sebagai  corak  psikologi  yang  mengakui adanya  dimensi  kerohanian  pada  manusia  di  samping  dimensi  ragawi  dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna  (the will of meaning) merupakan motivasi utama  manusia guna  meraih  taraf  kehidupan  bermakna  (the  meaningful  life)  yang didambakannya.

Hidup  akan  memiliki  makna  dalam  setiap  situasi  selama  kita  mampu mengambil  hikmah,  bahkan  dalam  penderitaan  dan  kepedihan  sekalipun.  Makna adalah  sesuatu  yang  dirasakan  penting,  benar,  berharga  dan  didambakan  serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia  memiliki  kemampuan  untuk  mengambil  sikap  terhadap  peristiwa  tragis yang  tidak  dapat  dielakkan  lagi  yang  menimpa  dirinya  sendiri  dan  lingkungan sekitar (penderitaan dan kepedihan).  

Makna  hidup  setiap  manusia  dapat  ditentukan  sendiri  olehnya,  karena manusia  memiliki  kebebasan yang  hampir  tidak  terbatas.  Dari  kebebasannya manusia  dapat  memilih  makna  atas  setiap  peristiwa  yang  terjadi  dalam  diri, apakah  itu  makna  positif  atupun  makna  yang  negatif.  Dan  makna  positif  ini  lah yang dimaksud dengan hidup bermakna.


Sumber :
Bastaman,  H.D.  2007.  Logoterapi  “Psikologi  untuk  Menemukan  Makna  Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Christia, Mellia. (2011). Meraih Hidup Bermakna. Seminar. Universitas Indonesia: Depok

Selasa, 30 April 2013

Behavior Therapy

Terapi behavioral atau terapi perilaku berasal dari dua konsep yakni dari Ivan Pavlov dan B.F. Skinner. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1985) untuk menanggulangi (treatment) neurosis. Dasar teori Behavioral adalah bahwa prilaku dapat dipahami sebagai hasil kombinasi:
  1. Belajar waktu lalu dalam hubungannya dengan keadaan yang serupa;
  2. Keadaan motivasional sekarang dan efeknya terhadap kepekaan terhadap lingkungan;
  3. Perbedaan-perbedaan biologik baik secara genetik atau karena gangguan fisiologik.
Para konselor behavioral memandang kelainan prilaku sebagai kebiasaan yang dipelajari. Karena itu dapat diubah dengan mangganti situasi positif yang direkayasa sehingga kelainan prilaku berubah menjadi positif.

Terapi perilaku adalah penggunaan prinsip dan paradigm belajar yang ditatpkan secara eksperimental untuk mengatasi perilaku tidak adaptif. Dalam prakteknya, terapi perilaku adalah penekanan pada analisis perilaku untuk menguji secara sistematik hipotesis mana terapi didasarkan.

Ciri-ciri Behavioral Therapy
  1. Berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik;
  2. Memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan terapeutik;
  3. Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien;
  4. Penafsiran objektif atas tujuan terapeutik
Behavior therapy beranggapan bahwa kondisi klien merupakan akibat dari stimulus konselor, dengan begitu konselor dalam setiap mengadakan konseling harus mempunyai stimulus kepada klien, sehingga klien dengan mudah dan cepat merasakan stimulus yang diberikan.

Tujuan Terapi Perilaku
  1. Mengubah perilaku yang tidak sesuai pada klien
  2. Membantu klien belajar dalam proses pengambilan keputusan secara lebih efisien.
  3. Mencegah munculnya masalah di kemudian hari.
  4. Memecahkan masalah perilaku khusus yang diminta oleh klien.
  5. Mencapai perubahan perilaku yang dapat dipakai dalam kegiatan kehidupannya.
Teknik-Teknik Terapi Perilaku
  1. Desensitisasi sistematik dipandang sebagai proses deconditioning atau counterconditioning. Prosedurnya adalah memasukkan suatu respons yang bertentangan dengan kecemasan, seperti relaksasi. Individu belajar untuk relaks dalam situasi yang sebelumnya menimbulkan kecemasan.
  2. Flooding adalah prosedur terapi perilaku di mana orang yang ketakutan memaparkan dirinya sendiri dengan apa yang membuatnya takut, secara nyata atau khayal, untuk periode waktu yang cukup panjang tanpa kesempatan meloloskan diri.
  3. Penguatan sistematis (systematic reinforcement) didasarkan atas prinsip operan, yang disertai pemadaman respons yang tidak diharapkan. Pengkondisian operan disertai pemberian hadiah untuk respons yang diharapkan dan tidak memberikan hadiah untuk respons yang tidak diharapkan.
  4. Pemodelan (modeling) yaitu mencontohkan dengan menggunakan belajar observasionnal. Cara ini sangat efektif untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan, karena memberikan kesempatan kepada klien untuk mengamati orang lain mengalami situasi penimbul kecemasan tanpa menjadi terluka. Pemodelan lazimnya disertai dengan pengulangan perilaku dengan permainan simulasi (role-playing).
  5. Regulasi diri melibatkan pemantauan dan pengamatan perilaku diri sendiri, pengendalian atas kondisi stimulus, dan mengembangkan respons bertentangan untuk mengubah perilaku maladaptif.
Teori dasar Metode Terapi Perilaku
  1. Perilaku maladaptif dan kecemasan persisten telah dibiasakan (conditioned) atau dipelajari (learned)
  2. Terapi  untuk perilaku maladaptif adalah dg penghilangan kebiasaan (deconditioning) atau ditinggalkan (unlearning)
  3. Untuk menguatkan perilaku adalah dg pembiasaan perilaku (operant and clasical conditioning)
Fungsi dan Peran Terapis
Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang baru dan adjustive.

Hubungan antara Terapis dan Klien
Pembentukan hubungan pribadi yang baik adalah salah satu aspek yang esensial dalam proses terapeutik, peran terapis yang esensial adalah peran sebagai agen pemberi perkuatan. Para terapis tingkah laku menghindari bermain peran yang dingin dan impersonal sehingga hubungan terapeutik lebih terbangun daripada hanya memaksakan teknik-teknik kaku kepada para klien.

Kelemahan Dan Kelebihan Behavioral Therapy
Kelebihan yang terdapat dari behavioral therapy ialah memiliki berbagai macam teknik konseling yang teruji dan selalu diperbaharui; waktu dalam konseling relatif singkat; kolaborasi yang baik antara konselor dan konseli dalam penetapan tujuan dan pemilihan teknik.

Kelemahan yang terdapat dari behavioral therapy ialah mengabaikan faktor relasional penting dalam terapi; tidak memberikan wawasan; mengobati gejala bukan penyebab; melibatkan kontrol dan manipulasi oleh konselor.


Sumber:Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
Corey G. (2009). Theory and practice of   counseling and psychotherapy. Belmont: Cole.

Selasa, 23 April 2013

Terapi Rasional Emotif

Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada tahun 1960-an oleh Alberl Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian.

Terapi rasional emotif  adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri.

Terapi rasional emotif menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakat. Manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain.

Terapi rasional emotif menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimulan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik. Menurut Allbert Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri. Sebagai akibatnya, mereka akan bertingkah laku berbeda dengan cara mereka bertingkah laku di masa lampau. Jadi, karena bisa berpikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah, mereka bukan korban-korban pengkondisian masa lampau yang pasif.

Unsur pokok terapi rasional emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah Menurut Ellis, pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran.

Pandangan yang penting dari teori rasional emotif adalah konsep hahwa banyak perilaku emosional indiuidu yang berpangkal pada “self-talk:” atau “omong diri” atau internatisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang-orang yang seperti itu, menurut Eilis adalah karena: (1) terlalu bodoh untuk berpikir secara jelas, (2) orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi, (3) orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan seeara memadai.

Tujuan dari Rational Emotive Theory adalah:

  1. Memperbaiki dan mengubah segala perilaku yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan dirinya.
  2. Menghilangkan gangguan emosional yang merusak
  3. Untuk membangun Self Interest, Self Direction, Tolerance, Acceptance of Uncertainty, Fleksibel, Commitment, Scientific Thinking, Risk Taking, dan Self Acceptance Klien.

Ellis menunjukkan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam Terapi rasional emotif yang diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu : " meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik". Tujuan psikoterapis yang lebih baik adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri merka telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami oleh mereka.
Ringkasnya, proses terapeutik terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan karena sumber ketidak bahagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Proses terapi, karenanya sebagian besar adalah proses belajar-mengajar. Menghapus pandangan hidup klien yang mengalahkan diri dan membantu klien dalam memperoleh pandangan hidup yang lebih toleran dan rasional.

Teori A-B-C tentang Kepibadian

Terapi rasional emotif dimulai dengan ABC: A  adalah activating experiences atau pengalaman-pengalaman pemicu, seperti kesulitan-kesulitan keluarga, kendala-kendala pekerjaan, trauma-trauma masa kecil, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai penye¬bab ketidak bahagiaan. B adalah beliefs, yaitu keyakinan-ke¬yakinan, terutama yang bersifat irasional dan merusak diri sendiri yang merupakan sumber ketidakbahagiaan kita. C adalah consequence, yaitu konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan emosi-emosi negatif seperti panik, dendam dan amarah karena depresi yang bersumber dari keyakinan-¬keyakinan kita yang keliru.

Pada dasarnya, kita merasakan sebagaimana yang kita pikirkan. Maka, alangkah lebih baiknya apabila kita selalu memiliki perasaan positif. Tindakan palilng efisien untuk membantu orang-orang dalam membuat perubahan-perubahan kepribadiannya adalah dengan mengkonfrontasikan mereka secara langsung dengan filsafat hidup mereka sendiri, menerangkan kepada mereka bagaimana cara berfikir secara logis, sehingga mengajari mereka untuk mampu mengubah atau bahkan menghapuskan keyakinan-keyakinan irasionalnya.

Ellis menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me¬lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psi¬kologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional. Dalam pelaksanaan Terapi rasional emotif ini, terapis harus benar-benar mengenal dirinya sendiri dengan baik, sehingga ia bisa memisahkan falsafah hidupnya dan tindak memaksakan keyakinannya pada klien. Disamping itu, terapis juga harus mengetahui timing yang tepat untuk memberikan dorongan pada klien. Terapis harus menghindari terjadinya indoktrinasi atas diri klien. Yang perlu dilakukan terapis hanyalah menyampaikan kepada klien apa yang salah dan bagaimana klien harus mengubahnya menjadi benar.

Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan ke¬sepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan me¬nyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri. Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.

Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini. Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut. Ada beberapa jenis “pikiran¬-pikiran yang keliru” yang biasanya diterapkan orang, di antaranya:
  1. Mengabaikan hal-hal yang positif,
  2. Terpaku pada yang negatif,
  3. Terlalu cepat menggeneralisasi.
Fungsi dan Peran Terapis

Aktifitas-aktifitas therapeutic utama Terapi rasional emotif dilaksanakan dengan satu maksud utama, yaitu : membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya. Sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasi keyakinan-keyakinan dagmatis yang rasional dan takhyul yang berasal dari orang tuanya maupun dari kebudayaannya.

Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, terapis memiliki tugas-tugas yang spesifik yaitu :
  1. Mengajak klien untuk berpikir tentang beberapa gagasan dasar yang irasional yang telah memotivasi banyak gangguan tingkah laku.
  2. Menantang klien untuk menguji gagasan-gagasannya.
  3. Menunjukkan kepada klien ketidaklogisan pemikirannya.
  4. Menggunakan suatu analisis logika untuk meminimalkan keyakinan-keyakinan irasional klien.
  5. Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan itu tidak ada gunanya dan bagaimana keyakinan-keyakinan akan mengakibatkan gangguan-gangguan emosional dan tingkah laku di masa depan.
  6. Menggunakan absurditas dan humor untuk menghadapi irasionalitas pikiran klien
  7. Menerangkan bagaimana gagasan-gagasan yang irasional bisa diganti dengan gagasan-gagasan yang rasional yang memiliki landasan empiris, dan
  8. Mengajari klien bagaimana menerapkan pendekatan ilmiah pada cara bepikir sehingga klien bisa mengamati dan meminimalkan gagasan-gagasan irasional dan kesimpulan-kesimpulan yang tidak logis sekaang maupun masa yang akan datang, yang telah mengekalkan cara-cara merasa dan berperilaku yang merusak diri.
Hubungan antara Terapis dan Klien

Teapis berfungsi sebagai guru dan klien sebagai murid. Hubunagn pribadi antara terapis dan klien tidak esensial. Klien memperoleh pemahaman atas masalah dirinya dan kemudian harus secara aktif menjalankan pengubahan tingkah laku yang mengalahkan diri.

Teknik dan prosedur praktek dari terapi rasional-emotif

Metode kognitif. Beberapa teknik kognitif antara lain :
  1. Mempertanyakan keyakinan irasional. Terapis menunjukan kepada klien bahwa mereka terganggu bukan karena peristiwa tertentu yang terjadi melainkan karena persepsi mereka sendiri atas peristiwa itu dan karena sifat dari pernyataan mereka terhadap diri sendiri.
  2. Pekerjaan rumah kognitif. Mereka diberi pekerjaan rumh yaitu cara untuk melacak “seharusnya” yang mutlak merupakan bagian dari pesan diri mereka yang terinternalisasi.
  3. Mengubah gaya berbahasa seseorang. Klien belajar bahwa “seharusnya” bisa diganti dengan preferensi. Praktisi berlandasan bahwa bahasa membentuk pola berpikir dan pola berpikir membentuk bahasa.
  4. Penggunaan humor. TRE berpendapat bahwa gangguan emosional sering kali merupakan hasil dari sikap diri yang terlalu serius dalam memandang hidup mereka kehilangan cita rasa perspektifnya serta rasa humor.

Metode emotif. Beberapa teknik emotif antara lain :
  1. Imaginasi rasional emotif. Klien membayangkan mereka sedang berpikir, merasakan, dan berperilaku tepat seperti yang akan mereka lakukan dalam imaginasi mereka serta merasakan dan berperilaku dalam kehidupan nyata.
  2. Bermain peran. Terapis sering meninterupsi untuk menunjukan kepada klien apa yang mereka katakan tentang diri mereka sendiri yang menciptkan gangguan dan apa yang mereka perbuat untuk mengubah perasaan mereka yang tidak pada tempatnya menjadi sesuai.
  3. Latihan menyerang rasa malu. Maksud utama dari latihan ini adalah bahwa klien berusaha untuk tidk merasa mlu meskipun orang lain jelas-jelas tidak menyetujuinya.
  4. Penggunaan kekuatan dan ketegaran. Klien ditunjukan bagaimana cara menggunakan dialog keras pada diri mereka sendiri dimana mereka mengungkapkan keyakinan irasional mereka dan selanjutnya mempertanyakannya.

Langkah-Langkah Terapi Rasional Emotif

  1. Langkah pertama, Konselor berusaha menunjukkan bahwa cara berfikir klien harus logis kemudian membantu bagaimana dan mengapa klien sampai pada cara seperti itu, menunjukkan pola hubungan antara pikiran logis dan perasaan yang tidak bahagia atau dengan gangguan emosi yang di alami nya.
  2. Langkah kedua, Menunjukkan kepada klien bahwa ia mampu mempertahankan perilakunya maka akan terganggu dan cara pikirnya yang tidak logis inilah yang menyebabkan masih adanya gangguan sebagaimana yang di rasakan.
  3. Langkah ketiga, Bertujuan mengubah cara berfikir klien dengan membuang cara berfikir yang tidak logis
  4. Langkah keempat, Dalam hal ini konselor menugaskan klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata.

Ciri-Ciri Terapi Rasional Emotif

  1. Dalam menelusuri masalah klien yang di bantu nya, konselor berperan lebih aktif di bandingkan klien. Maksudnya adalah bahwasannya peran konselor disini harus bersikap efektif dan memiliki kapasitas untuk memecahkan masalah yang di hadapi klien dan bersungguh-sungguh dalam mengatasi masalah yang di hadapi artinya konselor harus melibatkan diri dan berusaha menolong kliennya supaya dapat berkembang sesuai dengan keinginan dan di sesuaikan dengan potensi yang di miliki nya.
  2. Dalam proses hubungan konseling harus tetap di ciptakan dan di pelihara hubungan baik dengan klien. Dengan sikap yang ramah dan hangat dari konselor akan mempunyai pengaruh yang penting demi suksesnya proses konseling sehingga dengan terciptanya proses yang akrab dan rasa nyaman ketika berhadapan dengan klien.
  3. Tercipta dan terpeliharanya hubungan baik ini di pergunakan oleh konselor untuk membantu klien mengubah Cara berfikirnya yang tidak rasional menjadi rasional.
  4. Dalam proses hubungan konseling, konselor tidak banyak menelusuri masa lampau klien.
  5. Diagnosis (rumusan masalah) yang di lakukan dalam konseling rasional emotif bertujuan untuk membuka ketidak logisan cara berfikir klien. Dengan melihat permasalahan yang di hadapi klien dan faktor penyebabnya, yakni menyangkut cara pikir klien yang tidak rasional dalam menghadapi masalah, yang pada intinya menunjukkan bahwa cara berpikir yang tidak logis itu sebenarnya menjadi penyebab gangguan emosionalnya.

Kelebihan Terapi rasional emotif

  1. Pendekatan ini cepat sampai kepada masalah yang dihadapi oleh klien. Dengan itu perawatan juga dapat dilakukan dengan cepat.
  2. Kaedah pemikiran logik yang diajarkan kepada klien dapat digunakan dalam menghadapi gejala yang lain.
  3. Klien merasakan diri mereka mempunyai keupayaan intelektual dan kemajuan dari cara berfikir.

Kelemahan Terapi rasional emotif

  1. Ada klien yang boleh ditolong melalui analisa logik dan falsafah, tetapi ada pula yang tidak begitu geliga otaknya untuk dibantu dengan cara yang sedemikian yang berasaskan kepada logika.
  2. Ada sebagian klien yang begitu terpisah dari realiti sehingga usaha untuk membawanya ke alam nyata sukar sekali dicapai.
  3. Ada juga klien yang terlalu berprasangka terhadap logik, sehingga sukar untuk mereka menerima analisa logik.
  4. Ada juga sebagian klien yang memang suka mengalami gangguan emosi dan bergantung kepadanya di dalam hidupnya, dan tidak mahu membuat apa-apa perubahan lagi dalam hidup mereka.


Sumber :
Amir Awang. Pengantar Bimbingan dan Kaunseling Di Malaysia. Pulau Pinang: University Sains Malaysia, 1997
Corey, Gerald. (1995. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Semarang : IKIP Semarang Press

Senin, 15 April 2013

Analisis Transaksional

Analisis transaksional adalah suatu pendekatan psikoterapeutik yang sangat dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis. Analisis transaksional gagasan Eric Berne (1910-1970) merupakan suatu pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling pengaruh diantara mansia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri dan manusia lain) dan kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri). Pada intinya, makna analisis transaksional adalah untuk memperkaya kemampuan-kemampuan menghadapi dan mengatur situasi yang paling dalam dan nteraksi kehidupan nyata.

Metode analisis transaksional muncul sekitar pertengahan tahun 1950-an, dari pengakuan seorang pasien. Pasien yang adalah seorang pengacara itu berkomentar dalam sesi terapinya bahwa ia hanyalah seorang anak laki-laki kecil daripada seorang pengacara yang matang. Pengertian ini mengarah pada analisis structural dan tahap ego (tahap mental anak dan dewasa).

Kategori Analisis Transaksional
  1. Keadaan Ego (ego states), Keadaan ego didefinisikan sebagai “realita ego yangbenar-benar dialami oleh seorang secara mental dan fisik” pada waktu tertentu. Selanjutnya, dipostulasikan keadaan ego memperlihatkan seperangkat pengalaman-pengalaman internal yang khas, dan juga seperangkat perilaku-perilaku yang dapat diamati.
  2. Transaksi, Karena keadaan ego merupakan struktur dasar kepribadian, manusia berinteraksi satu sama lain dari satu atau lebih keadaan ego tersebut. Berne membedakan tiga transaksi: timbale-balik atau komplementer, silang, dan tersembunyi.
  3. Permainan drama segitiga, Didefinisikan sebagai suatuurutan transaksi tersembunyi yang berlangsung melalui tahap-tahap yang didefinisikan dengan baik hingga suatu dampak yang dapat diramalkan menyebutnya “memberikan hasil”.
  4. Naskah
  5. Gerakan dan Lakon Cerita
  6. Posisi Kehidupan
  7. Perintah dan keputusan ulang naskah
Analisis transaksional (suatu istilah yang digunakan untuk seluruh sistem terapi Berne dan suatu tahap analisis psikoterapeutik) mulai menganalisis pasien menurut tahap-tahap ini:

Tahap-tahap Analisis Transaksional
  1. Analisis Struktural, Sadar akan tahap ego yang menyususn dan menemukan fenomenologi kepribadian. Ketiga tahap ego ini antara lain orang tua, dewasa, anak. Tahap analisis transaksional cocok digunakan dalam pertemuan sosial yang disebut transaksional, yaitu pertemuan dua atau lebih individu. Orang pertama menciptakan stimulant transaksional, orang kedua menciptakan suatu respon transaksional.
  2. Analisis Transaksional yang Pantas
  3. Analisis Permainan, Tahap ini sebagai suatu seri pertumuhan transaksi pelengkap tersembunyi dan sebagai hasil yang dapat diprediksi.
  4. Analisis Tulisan, Dibandingkan dengan tulisan-tulisn yang berhubungan dengan drama, tulisan dalam AT adalah mereka yang mengabdikan diri seluruhnya pada drama.
  5. Kontrol Sosial, Pertumbuhan lewat setiap tahap analisis structural pasien akhirnya mencoba mencapai control sosial.
Pasien mulai dengan tahap analisis structural, sadar akan tahap ego yang menyusun dan menemukan fenomenologi kepribadian. Ketiga tahap ego antara lain:
  1. Orang tua: tahap menyerupai figure orang tua
  2. Dewasa: masa kematangan dimana seseorang menghadapi dan menghargai otonomi realitas, atau menghadapi dunia apa adanya.
  3. Anak: masa menyerupai seorang anak, atau masa dimana muncul perilaku kekanakan, atau tindakan arkais.
Tahap analisis transaksional cocok digunakan dalam pertemuan sosial yang disebut transaksional, yaitu pertemuan dua atau lebih individu. Orang pertama menciptakan stimulasi transaksional, orang kedua (yang menjawab) menghasilkan suatu respons transaksional. Transaksi menjadi saling melengkapi ketika responden bereaksi sesuai dengan yang diharapkan, yang berarti juga membiarkan hubungan sosial berjalan lancer. Sebaliknya, ia bisa menjadi transaksi menyilang atau pengganggu komunikasi seperti transaksi-transaksi yang menyebabkan keterpisahan/perceraian.

Berne juga mendefinisikan tahap permainan sebagai suatu seri pertumbuhan transaksi pelengkap tersembunyi dan sebagai hasil yang dapat diprediksi. Berne menggolongkan permainan-permainan sebagai bagian–bagian tulisan. Suatu permainan adalah suatu maneuver ketaksadaran untuk menentukan hubungan-hubungan dalam kehidupan bersama orang lain dalam rangka menggunakan mereka. Terhadap mereka yang terus meratapi kehilangan, Berne melihat mereka sebagai yang membuang-buang waktu menerangkan mengapa mereka kehilangan dan membiarkan diri berpikir tentang apa yang hendak mereka lakukan. Mereka jarang menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Orang tua, dewasa, dan anak, sebagai potongan-potongan yang digunakan dalam permainan, merupakan manifestasi dari tahap universal pikiran.

Sementara analisis struktural sebagai prerequisit bagi analisis transaksional, tahap analisis transaksional diikuti oleh analisis permainan, yang digantikan oleh analisis tulisan. Dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan drama, tulisan dalam analisis transaksional adalah mereka yang mengabdikan diri seluruhnya pada drama. Pertumbuhan lewat setiap tahap analisis struktural. Pasien akhirnya mencoba mencapai control sosial.

Kelebihan Analisis Transaksional
Berne menunjukkan bahwa salah satu nilai lebih dari AT ialah bahwa terapi ini adalah psikiatri sosial dan psikologi individual. Terapi ini memberikan suatu perspektif yang unik tentang interaksi sosial dan fenomena sosial lain. Sering kali pelayanan bersifat tatap muka dengan penekanan umum pada permainan-permainan yang dimainkan di dalam ruang penanganan dan dengan memfokuskan pada transferensi dan konstransferensi perilaku-perilaku yang digerakkan dalam pelayanan naskah.

Sumber:
  • Naisaban, Ladislaus.(-). Para Psikolog Terkemuka Dunia (Riwayat Hidup, Pokok Pikiran, dan Karya). Jakarta: Gunung Mulia
  • Roberts, Albert. R & Gilbert.J.(-). Buku pintar pekerja sosial. Gunung mulia.

Senin, 01 April 2013

Client Centered Therapy

Client Centered Therapy sering pula dikenal sebagai teori nondirektif dimana tokoh utamanya adalah Carl Rogers. Pendekatan client-centered manaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Rogers menentang asumsi dasar bahwa “terapis tahu apa yang terbaik“. Asumsi dasarnya adalah bahwa orang itu secara esensial bisa dipercaya, memiliki potensi yang besar untuk memahami dirinya dan menyelesaikan masalah mereka tanpa intervensi langsung dari pihak terapis, dan bahwa mereka ada kemampuan untuk tumbuh sesuai dengan arahan mereka sendiri apabila mereka terlibat dalam hubungan terapeutik.

Pendekatan humanistik Rogers terhadap terapi person centered theraphy membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Terapis tidak boleh memaksakan tujuan atau nilai yang dimilikinya kepada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan perasaanya yang lebih dalam dan bagian bagian dari dirinya yang tidak diakui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata kata apa yang diungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.

Tujuan dasar terapi client centered adalah menciptakan iklim yang kondusif  untuk membantu klien menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh. Guna mencapai tujuan terapeutik tersebut, terapis perlu mengembangkan agar klien bisa memahami hal-hal yang berada di balik topeng yang dikenakannya. Klien mengembangkan kepura-puraan dan bertopeng sebagai pertahanan terhadap ancaman. Sandiwara yang dimainkan oleh klien menghambatnya untuk tampil utuh di hadapan orang lain dan dalam usahanya untuk menipu orang lain, ia menjadi asing terhadap dirinya sendiri.

Bagaimanapun, banyak terapis yang mengalami kesulitan dalam memperbolehkan klien untuk menetapkan sendiri tujuan-tujuannya yang khusus dalam terapi. Meskipun mudah untuk berpura-pura terhadap konsep "klien menemukan jalan sendiri", ia menuntut terhadap respek terhadap klien dan keberanian pada terapis untuk mendorong klien agar bersedia mendengarkan dirinya sendiri dan mengikuti arah-arahnya sendiri terutama pada saat klien membuat pilihan-pilihan yang bukan merupakan pilihan-pilihan yang diharpkan oleh terapis.

Rogers menguraikan ciri-ciri yang membedakan pendekatan client-centered dari pendekatan-pendekatan lain. Berikut ini adaptasi dari uraian Rogers:

  1. Pendekatan client centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Klien sebagai sebagai orang yang paling mengetahui dirinya sendiri, adalah orang yang harus menemukan tingkah laku yang lebih pantas bagi dirinya.
  2. Pendekatan client centered menekankan dunia fenomenal klien. Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami klien. Dengan eimpati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami kerangka acuan internal klien, terapis memberikan perhatian terutama pada persepsi diri klien dan persepsinya terhadap dunia.
  3. Prinsip-prinsip psikoterapi yang sama diterapkan pada semua orang yang "normal" yang "neurotik" dan yang "psikotik". Berdasarkan konsep bahwa hasrat untuk bergerak menuju kematangan psikologis berakar dalam pada manusia, prinsip-prinsip terapi client-centered diterapkan pada individu yang fungsi psikologisnya berada pada taraf yang relatif normal maupun individu yang derajat penyimpangan psikologisnya lebih besar.
Yang pertama dan terutama, terapis harus bersedia menjadi nyata dalam hubungan dengan klien, terapis menghadapi klien berlandaskan pengalaman dari saat ke saat dan membantu klien dengan kategori diagnostik yang telah dipersiapkan. Melalui perhatian yang tulus, respek, penerimaan dan pengertian, klien bisa menghilangkan pertahanan-pertahanan dan persepsi-persepsinya yang kaku serta bergerak menuju taraf fungsi pribadi yang jelas tinggi.

Para terapis client centered secara khas merefleksikan isi dan perasaan-perasaan, menjelaskan pesan-pesan, membantu para klien untuk memeriksa sumber-sumbemya sendiri, dan mendorong klien untuk menemukan cara-cara pemecahannya sendiri. Jadi, terapi client centered jauh lebih aman dibanding dengan model terapi lain yang menempakan terapi pada posisi direktif, membuat penafsiran-penafsiran, membentuk diagnosis ke arah pengubahan kepribadian secara radikal.


Sumber :
Semiun, yustinus. 2006. Kesehatan mental 3. Yogyakarta: kanisius
http://www.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=0yHBXXhJbKQC&oi=fnd&pg=PR9&dq=person+centered+terapi&ots=7r0Mu2Kyq1&sig=Y1cb7j7c5vUunYBIrHMMD46dw3o&redir_esc=y#v=onepage&q=person%20centered%20terapi&f=false
http://annamakeitmine.blogspot.com/2012/10/do-youknow-cross-cultural-psychology.html

Rabu, 27 Maret 2013

Terapi Eksistensial Humanistik

Menurut kartini kartono dalam kamus psikologinya mengatakan bahwa terapi eksistensial humanistik adalah salah satu psikoterapi yang menekankan pengalaman subyektif individual kemauan bebas, serta kemampuan yang ada untuk menentukan satu arah baru dalam hidup.

Menurut pandangan eksistensialis manusia memiliki kesadaran akan dirinya sendiri. Ini merupakan kemampuan yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya yang membuat manusia mengenang dan mengambil keputusan. Dengan kesadaran, manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan tentang cara hidup, dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuatnya. Dapat dikatakan bahwa manusialah yang menentukan nasibnya sendiri, dialah sebagai penulis atau pengkreasi atau sebagai arsitek bagi kehidupannya.

Tujuan Eksistensial Humanistik
Tujuan mendasar eksistensial humanistik adalah membantu individu menemukan nilai, makna, dan tujuan  alam hidup manusia sendiri. Juga diarahkan untuk membantu klien agar menjadi lebih sadar bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih dan bertindak, dan kemudian membantu mereka membuat pilihan hidup yang memungkinkannya dapat mengaktualisasikan diri dan mencapai kehidupan yang bermakna.

Fungsi dan Peran Terapis
Dalam pandangan eksistensialis tugas utama dari seorang terapis adalah mengeksplorasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ketakberdayaan, keputusasaan, ketakbermaknaan, dan kekosongan eksistensial serta berusaha memahami keberadaan klien dalam dunia yang dimilikinya. May (1981), memandang bahwa tugas terapis bukanlah untuk merawat atau mengobati konseli, akan tetapi diantaranya adalah membantu klien agar menyadari tentang apa yang sedang mereka lakukan, dan untuk membantu mereka keluar dari posisi peran sebagai korban dalam hidupnya dalam keberadaanya di dunia.

Proses dan Teknik Konseling Eksistensial humanistik
  1. Tahap pertama, konselor membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercermin pada eksistensi mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah dalam kehidupan mereka.
  2. Pada tahap kedua, klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dari system mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
  3. Tahap ketiga berfokus pada untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupanya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaaan kebebasan pribadinya.
Psikologi humanistik meliputi beberapa pendekatan untuk konseling dan psikoterapi. Pada pendekatan-pendekatan awal ditemukan teori perkembangan dari Abraham Maslow, yang menekankan pada hirarki kebutuhan dan motivasi, psikologi eksistensial dari Rollo May yang mempelajari pilihan-pilihan manusia dan aspek tragis dari keksistensian manusia, dan terapi person-centered atau client-centered dari Carl Rogers, yang memusatkan seputar kemampuan klien untuk mengarahkan diri sendiri (self-direction) dan memahami perkembangan diri sendiri. Pendekatan-pendekatan lain dalam konseling dan terapi psikologi humanistik adalah Gestalt therapy, humanistic psychotherapy, depth therapy, holistic health, encounter groups, sensitivity training, marital and family therapies, body work, dan the existential psychotherapy dari Medard Boss. Teori humanisitk juga mempunyai pengaruh besar pada bentuk lain dari terapi yang populer, seperti Harvey Jackins' Re-evaluation Counselling dan studi dari Carl Rogers. Seperti yang disebutkan oleh Clay.psikologi humanistik cenderung untuk melihat melebihi model medikal dari psikologi dengan tujuan membuka pandangan non-patologis dari seseorang. Kunci dari pendekatan ini adalah pertemuan antara terapis dan klien dan adanya kemungkinan untuk berdialog. Hal ini seringkali berimplikasi terapis menyingkirkan aspek patologis dan lebih menekankan pada aspek sehat dari seseorang.

Sumber:
www.psikomedia.com/article/pdf?id=2408
http://fyanti51.blogspot.com/2012/04/teknik-terapi-psikoanalisis-dan.html
Misiak, henryk.2005.psikologi fenomenologi,eksistensial dan humanistic. Bandung: PT rafika aditama.

Senin, 18 Maret 2013

Terapi Psikoanalisa


Di dalam terapi Psikoanalisa ini, peran seorang terapis antara lain adalah : membantu klien dalam mencapai kesadaran diri (conscious), kejujuran, dan keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis ; membangun hubungan kerja yang profesional dengan klien, yaitu dengan banyak mendengarkan cerita atau uraian dari klien dan menafsirkannya; terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien (maksudnya adalah terapis harus peka terhadap masalah/bagian dari cerita atau uraian apa saja yang tidak ingin diceritakan oleh klien. Dari situ terapis bisa mulai mengetahui topik apa yang mengganggu klien atau akar masalah klien) ; mendengarkan kesenjangan-kesenjangan dan pertentangan-pertentangan pada cerita klien (hal ini dimaksudkan agar terapis menganalisis kesenjangan dan pertentangan itu untuk mengetahui akar dari masalah yang menggelayuti klien).

Kata psikoanalisa dikenalkan pertama kali oleh Sigmund Freud. Ia membandingkan jiwa dengan gunung es di mana bagian lebih kecil yang muncul di permukaan air menggambarkan daerah kesadaran, sedangkan massa yang jauh lebih besar di bawah permukaan air mengaambarkan daerah ketidaksadaran. Artinya di dalam daerah ketidaksadaran yang sangat luas ini ditemukan dorongan-dorongan, nafsu-nafsu, ide-ide, dan perasaan-perasaan yang ditekan.

Struktur kepribadian menurut Freud tersusun dari 3 sistem, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah sistem kepribadian yang asli. Ciri kerja Id disebut dengan “prinsip kesenangan”, ( pleasure principle). Ego adalah kenyataan objektif bisa di sebut juga penyeimbang antara id dan super ego. Ego disebut juga prinsip kenyataan. Superego adalah perwujudan internal dari nilai-nilai, norma, moral yang mencerminkan yang ideal dan bukan ideal.

Metode yang digunakn dalam terapi psikoanalisis/psikoanalisa
  1. Hipnotis. Hipnotis dialihkan untuk menimbulkan suatu keadaan kesadaran yang berubah melalui sugesti verbal. 
  2. Asosiasi Bebas. Asosiasi bebas secara sederhana didefinisikan sebagai bicara bebas, yaitu sesuatu yang tidak lebih dari berbicara tentang apa yang terlintas dalam pikiran, beralih dari satu topik menuju topik lain dalam suatu urutan yang bergerak bebas serta tidak mengikuti agenda tertentu.
  3. Analisis Mimpi. Mimpi, dipercaya Freud sebagai “jalan yang sangat baik menuju ketaksadaran”. Hal tersebut didasari kepercayaan Freud bahwa mimpi itu perwujudan dari materi atau isi yang tidak disadari, yang memasuki kesadaran lewat yang tersamar. Dalam hal ini, mimpi mengandung muatan manifes atau manifest content dan content latent atau  muatan laten. Yang disebut pertama merupakan materi mimpi yang dialami dan dilaporkan. Sedangkan yang disebut kemudian, ialah materi bawah sadar yang disimbolisasikan atau diwakili oleh mimpi.
  4. Transferensi. Dalam psikoanalitik Freud, transferensi berarti proses pemindahan emosi-emosi yang terpendam atau ditekan sejak awal masa kanak-kanak oleh pasien kepada terapis. Transferensi dinilai sebagai alat yang sangat berharga bagi terapis untuk menyelidiki ketaksadaran pasien karena alat ini mendorong pasien untuk menghidupkan kembali pelbagai pengalaman emosional dari tahun-tahun awal kehidupannya.
  5. Penafsiran. Penafsiran itu sendiri adalah penjelasan dari psikoanalis tentang makna dari asosiasi-asosiasi, berbagai mimpi, dan transferensi dari pasien. Sederhananya, yaitu setiap pernyataan dari terapis yang menafsirkan masalah pasien dalam suatu cara yang baru. Penafsiran oleh analis harus memperhatikan waktu. Dia harus dapat memilah atau memprediksi kapan waktu yang baik dan tepat untuk membicarakan penafsirannya kepada pasien.


Sumber :
Semiun ,Yustinus. 2006. Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius
http://psikologioke.wordpress.com/2012/04/02/terapi-psikoanalisa/